GANGGUAN PSIKOLOGIS

GANGGUAN PSIKOLOGIS YANG TERKAIT DENGAN PENUAAN

 

Gangguan Penuaan

Banyak perubahan psikologis yang terjadi sejalan dengan penuaan. Perubahan dalam metabolism kalsium mengakibatkan tulang menjadi rapuh dan meningkatkan resiko patah bila terjatuh. Kulit tumbuh kurang elastis,menyebabkan keriput dan lipatan. Indra menjadi kutang tajam, sehingga orang tua kurang dapat melihat dan mendengar secara akurat. Orang lanjut usia butuh waktu lebih lama ( yang disebut waktu reaksi ) untuk berespons terhadap stimulus, baik ketika mereka mengemudi ataupun melakukan test intelegensi. Sebagai contoh, pengemudi yang sudah tua butuh watu lebih lama untuk bereaksi terhadap tanda-tanda lalu lintas maupun kendaraan lain. Fungsi sistem kekebalan menjadi kurang efektif seiring meningkatnya usia, sehingga orang lebih rentan terhadap penyakit ketika mereka menua. Kulit menjadi kurang eastis sehingga mudah tergores. Indera pendengaran berkurang, sebagaimana elastisitas lensa mata yang mmbuat mereka lebih sulit untuk berfokus pada objek yang dekat dan tulisan yang tercetak.

Perubahan kognitif sejalan dengan usia. Sangatlah normal bagi orang-orang usia tua mengalami penurunan dalam hal memori dan kemampuan kognitif umum, sebagaimana yang diukur oleh tes intelegensi maupun tes IQ. Penurunan yang paling tajam terjadi pada item-iten yang diukur dengan waktu, seperti skala kerja dari Wechsler Adult Intellegence Scale. Meskipun beberapa penurunan pada kemampuan kognitif ( pemahaman bacaan, kemmapuan spasial seperti dalam membaca peta, atau penalaran matematika dasar ) pada usia remaja umum terjadi, hal ini tidaklah berlaku secara menyeluruh. Penelitian menyebutkan bahwa 20% hingga 30% orang pada usia 80-an menunjukkan hasil tes intellegensi sebaik ketika mereka berusia 30 atau 40 tahunan (Goleman, 1994d ). Beberapa kemampuan seperti perbendaharaan kata dan perbendaharaan pengetahauan yang terakumulasi bertahan cukup baik pada kehidupan lanjut. Namun, orang biasanya mengalami beberapa penurunan dalam ingatan saat mereka menua,  terutama ingatan tentang nama-nama atau peristiwa-peristiwa yang baru. Namun terlepas dari rasa malu secara sosial akibat melupakan nama seseorang, penurunan kognitif yang dialami saat mereka bertambah tua tidak secara signifikan mengganggu kemampuan mereka untuk memenuhi tanggung jawab sosial maupun pekerjaan. Pengurangan dalam fungsi kognitif pada derajat tertentu mungkin juga dapat diimbangi dengan peningkatan pengetahuan pengalaman.

Hal yang penting disini adalah dimensia atau kepikunan bukan merupakan hasil dari proses penuaan yang normal. Ini merupakan tanda dari penyakit otak degenaratif. Penyaringan dan pengujian dengan menggunakan tes neurologis dan neoropsikologis dapat membantu membedakan demensia dengan proses penuaan yang normal. Biasanya proses pengurangan dalam fungsi intelektual pada dimensia terjadi lebih cepat dan parah.

GANGGUAN KECEMASAN PADA PENUAAN

Gangguan kecemasan dapat menyerang pada berbagai usia, namun pravalensinya lebih sedikit pada usia tua dibandingkan dengan usia-usia yang lebih muda. Gangguan kecemasan merupakan jenis gangguan mental yang umumnya menyerang orang tua dan dua kali lebih umum dibandingkan dengan gangguan mood seperti depresi. Kurang lebih 1 dari 10 orang dewasa berusia lebih dari 55 tahun menderita gangguan kecemasan yang dapat didiagnosis. Perempuan tua cnderung lebih terpengaruh terhadap kecemasan disbanding dengan laki-laki tua, dengan ratio dua disbanding satu ( 2:1 ) ( Stanley & Beck 2000 ). Gangguan kecemasan yang paling sering terjadi pada orang lanjut usia adalah gangguan kecemasan menyeluruh ( Generalized Anxiety Disorder : GAD ) dan gangguan fobia, gangguan panic jarang terjadi. Kebanyakan kasus agoraphobia yang menyerang orang tua cenderung berasal dari hal-hal yang baru terjadi dan mungkin melibatkan hilangnya sistem dukungan sosial karena kematian pasangan atau teman-teman dekat. Dan lagi inividu lanjut usia yang lemah mungkin memiliki kekuatan yang realistis akan terjatuh di jalanan dan mungkin mengalami salah diagnosis menderita agarofobia apabila mereka menolak meninggalkan rumah sendiri.

Gangguan kecemasan mungkil timbul dari persepsi bahwa orang tersebut kehilangan kendali atas kehidupanya, yang miungkin berkembang pada masa kehidupan lanjut ketika orang itu berusaha melawan penyakitnya, kehilangan teman-teman dan orang yang dicintai serta mengalami penurunan kesempatan dalam hal ekonomi. Penenang ringan seperti benzodiazepine ( valium salah satunya ), biasanya digunakan untuk mengatasi kecemasan pada orang usia lanjut. Demikian intervensi psikologis, seperti terapi kognitif behavioral mungkin merupakan alternative dari penurunan obat-obat psikis yang sesuai.

DEPRESI DAN PENUAAN

Meskipun resiko depresi mayor juga menurun seiring usia, depresi merupakan masalah umum yang dihdapi oleh orang usia lanjut. Pada sejumlah kasus, depresi merupakan kelanjutan dari pola yang berlangsung seumur hidup. Pada kasus lain depresi pertama kali muncul pada usi lanjut,. Antara 8% dan 20% orang usialanjut mengalami beberapa simtom depresi, dengan sekitar 3% dari mereka mengalami gangguan depresi mayor. Tingkat depresi tetap lebih tinggi. Meskipun lebih sedikit orang usia lanjut yang menderita depress mayor dibandngkan  orang dewasa muda, bunuh diri lebih sering terjadi pada orang lanjut usia, terutama laki-laki tua.

Depresi pada masa tua juga dihubungkan dengan tingkat penurunan fisik yang lebih cepat dan tingkat moralitas yang lebih tinggi. Depresi mungkin dikaitkan dengan tingkat moralitas yang tinggi karena kondisi medis yang menyertai atau mungkin Karena hilangnya kepatuhan untuk engkonsumsi obat-obatan yang dibutuhkan.

Gangguan depresi pada umumnya menyerang pada orang-oranag yang memiliki gangguan otak. Beberapa diantaranya seperti gangguan Alzheimer dan strok secara tidak seimbang mempengaruhi orang lanjut usia.Parapeneliti memperkirakan bahwa gangguan depresi menyerang setengah dari orang-orang yang menderita penyakit stroke dan sepertiga hingga setengah dari orang-orang yang menderita penyakit Alzheimer atau penyakit Parkinson. Pada kasus Parkinson depresi bukan sekedar reaksi dalam menghadapi penyakit, tetapi juga merupakan akibat perubahan neurbiologis di otak yang disebabkan oleh penyakit tersebut.

Ketersdiaan dukungan sosial tampaknya menjadi tameng dai dampak stress, duka cita, dan penyakit sehingga mengurangi resiko depresi. Dukungan sosial adalah penting terutama bagi orang tua yang mmiliki gangguan fisik. Namun, mengahdapi pasangan yang depresi dapat memkana korban, karena dapat menyebabkan resiko depresi pada orang yang merawatnya.

Di lain pihak, partisipasidalam organisasi sukarela dan intuisi keagamaan dihubungkan dengan resiko depresi yang lebih rendah pada orang tua. Bentuk-bentuk partisipasi sosial ini mungkin memberikan bukan hanya perasaan bermakna dan tujuan tetapi juga penyaluran sosial yang dibutukan.

Orang lanjut usia mungkin sangat rentan terhadap depresi yang disebabkan oleh stress dalam menghadapi perubahan-perubahan kehidupan yang berhubungan dengan apa yang dahulu disebut sebagai tahun emas-pensiun, penyakit atau ketidakmampuan fisik, penempatan dalam rumah-rumah jompo, kematian pasangan, saudara kandung, teman lama dan kenalan-kenalan atau kebutuhan untuk merawat pasangan yang kessehatnya menurun. Pensiun, baik sukarela maupun terpaksa, mungkin melemahkan perasaan bermakna dalam hidup dan menyebabkan hilangnya identitas peran. Kehilangan keluarga dan teman-teman meninggalkan duka cita dan mengingatkan orang yang berusia lanjut akan usia mereka yang semakin bertambah serta semakin berkurangnya keersediaan dukungan sosial. Orang lanjut usia mungkin merasa tidka mampu untuk membentuk pertemanan yang baru atau menemukan tujuan baru dalam hidup.

Bukti menunjukan bahwa ketegangan kronis dalam menghadapi anggota keluarga yang mengalami demensia dapat menyebabkan depresi pada orang yang merawat, bila sebelumnya tidak ada kerentanan pada depresi. Hampir setengah dari orang yang merawat pasien Alzheimer mengalami depresi.

Terlepas dari pravealensi depresi pada orang tua, dokter seringkali gagal mengenali atau memberikan obat yang sesuai. Pada sebuah penelitian terhadap lebih dari 500 orang usia lanjut usia tua di Ontario yang melakukan bunuh diri, hampir dari 9 dari 10 orang ditemukan meninggal tanpa penanganan. Penyediaan layana kesehatan mungkin cenderung kurang dapat mengenali depresi pada orang yang lebih tua dibandingkan orang pada usia peretengahan tau orang muda karena cenderung lebih berfokus pada keluhan-keluhan fisik orang yang lebih tua atau karena depresi pada orang yang lebih tua seringkali tertutup oleh keluhan-keluhan fisik atau gangguan tidur.

Kebanyakan orang lanjut usia yang mengalami penuruna ingatan tidan menderita penyakit Alzheimer. Mereka cnderung mengalami kehilangan memori akibat depresi atau faktor-faktor lain sebagai penggunaan alcohol yang kronis atau dampak dari stroke kecil. Berita baiknya adalah periode hendaya ingatan yang menyertai depresi pada orang lanjut usia  seringkali hilang apabila depresi yang mendasarinya disembuhkan.

Bukti menunjuka bahwa perawatan untuk orang yang depresi yang efektif untuk orang yang lebih muda sepert pengobatan antidepresan, terapi kognitif behavioral, dan piskoterapi interpersonal, demikian pula ECT juga efektif dalam menangani depresi geriartik. Bahkan, orang lanjut usia juga memperoleh keuntungan, meskkipun mungkin lebih perlahan, dari intervensi farmakologis dan psikologis. Seperti halnya orang pada usia pertengahan atau orang dewasa muda. Penemuan-penemuan ini seharusnya membantu menghilangkan keyakinan bahwa psikoterapi tidak sesuai untukorang lanjut usia

Dimensia tipe Alzheimer ( AD )

Dimensia merupakan penyakit otak degenaratif yang menyebabkan bentuk dimensia yang progresif dan tidak dapat diperbaiki, ditandai dengan hilangnya ingatan dan fungsi kognitif lainya.

Meskipun berhubungan dengan penuaan AD ( Alzheimer Disease ) merupakan penyakit dan bukan merupakan konsekuensi dari penuaan yang normal. Perempuan memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami penyakit ini dibandingkan laki-laki meskipun hal ini merupakan konsekuensi dari perempuan yang cenderung hidup lebih lama.

Demensia yang dikaitkan dengan AD meliputi suatu deteriorasi progresif dari kemampuan mental yang meliputi ingatan, bahasa dan pemecahan masalah. Kehilangan ingatan sementara atau menjadi pelupa pada usia pertengahan ( misalnya lupa dimana meletakkan kacamatanya ) merupakan konsekuensi normal dari proses penuaan dan bukan merupakan suatu tanda dari tahapan awal penyakit alzheimer. Orang-orang berusia lanjut mengeluh tidak dapat mengingat nama-nama seperti dahulu, atau lupa nama-nama sebelumnya mereka kenal dengan baik. Meskkipun lupa yang ringan mungkin mengkhawatirkan orang-orang, hal ini tidak mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan mereka.

Dugaan tentang AD diajukan apabila hendaya kognitif yang dialami lebih parah dan pervasive, mempengaruhi kemampuan individu untuk emmnuhi tanggung jawabnya yang biasa dalam pekerjaan sehari-hari dan peran-peran sosial. Seiring  berjalanya penyakit, orang yang mengalami AD dapat tersesat di tempat parker atau took atau bahkan di rumah mereka. Istri dari seorang pasien AD menggambarkan bagaimana AD mempengaruhi suaminya, “Tanpa pengobatan, Alzheimer merampok jati diri seseorang. Agitasi, perilaku berkeliling, depresi dan perilaku agresif menjadi umum ketika penyakit semkain parah.

Orang yang menderita AD mungkin mengalami kbingungan atau waham dalam pemikiran mereka dan mungkin merasakan bahwa kemampuan mental mereka menghilang tetapi tidak dapat memahami mengapa hal itu terjadi. Kebingungan dan ketakutan mungkin membawa pada waham paranoid atau keyakinan bahwa orang yang mereka cintai menghianati mereka, merampok mereka atau tidak peduli pada mereka. Mereka mungkin lupa nama-nama orang yang mereka cintai atau mungkin mereka tidak mengingatnya lagi dan bahkan mereka lupa dengan namanya sendiri.

Karakteristik psikotik seperti waham dan halusinasi ditemukan pada satu atau tiga orang yang menderita AD. Tampilan simtom-simtom psikotik tampaknya berhubungan dengan hendaya kognitif yang semakin besar dan deteriosasi yang lebih cepat. Orang-orang yang mengalami Alzheimer cenderung mengalami gangguan bunuh diri dan depresi, tetapi dokter-dokter mereka melewatkan gejala-gejalanya atau bahkan mungkin mengabaikanya.

DIAGNOSIS

Tidak ada tes yang jelas untuk diagnosis AD. Diagnosis AD biasanya didasarkan pada proses pengecualian ( exclusion ) dan hanya diberikan ketika kemungkinan penyebab dari lain demensia dapat dihilangkan. Kondisi medis dan psikologis lain yang mungkin mirip dengan AD, sepereti depresiyang parah yang berakibat hilangnya ngatan dan hendaya fungsi kognitif. Akibatnya kesalahan diagnosis dapat terjadi terurama pada tahap-tahap awal dari penyakit. Diagnosis untuk mengkonfirmasi AD dapat dibuat hanya berdassar pemeriksaan terhadap jaringan otak melalui biopsy atau autopsy. Namum biopsy jarang dilakukan karena danya resiko hemoragi atau infeksi, dan autopsy tentunya terjadi saat sudah terlalu loambat untuk dapat membantu pasien.

A. Pengertian alzhaimer
AlzheimerMenurut Whitbourne (2003), Alzheimer dikenal sebagai salah satu penyakit yang paling sering ditemui sebagai penyebab demensia. Demensia adalah suatu penyakit penurunan fungsi kognitif/gangguan intelektual/daya ingat yang umumnya semakin lama semakin memburuk (progresif) dan tidak dapat diubah (irreversible). Gejala gangguan perilaku lain yang sering dialami penderita penyakit ini adalah mereka jadi mudah tersinggung, sering merasa cemas, sulit tidur, pencuriga, sering keluyuran, bahkan berperilaku memalukan, misalnya telanjang di depan umum, pergi ke kantor dengan pakaian tidur, dan sebagainya. Alzheimer banyak dialami oleh orang lanjut usia, terutama usia 65 tahun ke atas, tetapi dalam perkembangannya kelompok usia sebelum usia diatas pun cenderung rentan terkena penyaki ini, yang disebabkan oleh berbagai factor, misalnya penerapan pola hidup dan gaya hidup yang tidak sehat dan atau semakin tingginya tuntutan hidup dan tekanan hidup karena pekerjaan terutama di kota-kota besar (megapolitan).
Menurut dr. Samino, Sp.S (K), spesialis syaraf dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, penegakan definisi Alzheimer dapat diketahui dari gejala-gejala yaitu lupa akan kejadian yang baru dialami, kesulitan dalam berbahasa, kesulitan melakukan pekerjaan sehari-hari, sering salah menaruh barang-barang, tidak dapat membuat keputusan, serta kesulitan dalam hitung-menghitung sederhana.
Ditambahkan oleh dr Suryo, selain penurunan daya ingat, penderita demensia Alzheimer stadium awal juga kerap mengalami gangguan psikologi dan perilaku. “Karena ada ingatan yang kosong, penderita demensia sering mengarang cerita yang diyakininya benar, hal ini menimbulkan pertentangan dengan orang di sekitarnya yang mengetahui bahwa cerita tersebut tidak benar, akibatnya penderita jadi bersikap paranoid,” jelasnya. Gejala gangguan perilaku lain yang sering dialami penderita penyakit ini adalah mereka jadi mudah tersinggung, sering merasa cemas, sulit tidur, pencuriga, sering keluyuran, bahkan berperilaku memalukan, misalnya telanjang di depan umum, pergi ke kantor dengan pakaian tidur.dan sebagainya.
Jadi dari penjelasan yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan bahwa Alzhaimer adalah salah satu penyakit yang paling sering ditemui sebagai penyebab demensia yang ditandai dengan penurunan daya ingat, lupa akan kejadian yang baru dialami, kesulitan dalam berbahasa, kesulitan melakukan pekerjaan sehari-hari, sering salah menaruh barang-barang, tidak dapat membuat keputusan, serta kesulitan dalam hitung-menghitung sederhana. Selain itu gejala gangguan terkait dengan perilaku yaitu penderita jadi mudah tersinggung, sering merasa cemas, sulit tidur, pencuriga, sering keluyuran, bahkan berperilaku memalukan, misalnya telanjang di depan umum, pergi ke kantor dengan pakaian tidur 

Gejala-gejala Alzheimer
Gejala AlzheimerBerdasarkan National Alzheimer’s Association (2003), gejala Alzheimer dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:

Gejala ringan
• Lebih sering bingung dan melupakan informasi yang baru dipelajari
• Disorientasi: tersesat di daerah sekitar yang dikenalnya dengan baik
• Bermasalah dalam melaksanakan tugas rutin
• Mengalami perubahan dalam kepribadian dan penilaian
Gejala menengah
• Kesulitan dalam mengerjakan aktivitas hidup sehari-hari, seperti makan dan mandi
• Cemas, curiga, dan agitasi
• Mengalami gangguan tidur
• Keluyuran
• Kesulitan mengenali keluarga dan teman.
Pertama-tama yang akan sulit untuk dikenali adalah orang-orang yang paling jarang ditemuinya, mulai dari nama, hingga tidak mengenali wajah sama sekali. Kemudian bertahap kepada orang-orang yang cukup jarang ditemui.

Gejala akut
• Sulit / kehilangan kemampuan berbicara
• Kehilangan nafsu makan, menurunnya berat badan
• Tidak mampu mengontrol buang air kecil dan buang air besar
• Sangat tergantung pada caregiver/pengasuh.

Tahap Alzheimer :

taraf tingkat keparahan penyakit ini terbagi dalam tiga tahap, yaitu tahap awal, tahap sederhana, dan tahap serius. Setiap tahap memiliki perilaku yang teridentifikasi.

  • Tahap awal
    Menurunya Pertuturan
    Menurunya daya ingatan ( tidak dapat mengingatkan benda yang biasa dalam kehidupannya ataupun ahli keluarga yang tersayang )
    Menurunya kemampuan pertimbangan tidak rasional,
    Perubahan tingkah laku
    Perubahan personaliti.
  • Tahap sederhana

Tidak dapat mengingati pekara yang baru berlaku.
Mempunyai masalah dalam tugasan harian seperti mencuci pinggan-mangkuk.
Mengambil masa yang lama dalam pemilihan pakaian untuk majlis-majlis atau
bersesuaian dengan cuaca.
Lupa untuk mandi dan merapikan diri.
Selalu bertengkar mulut.
Berangan-angan,kerap berlaku pada waktu malam. ( perubahan corak tidur )
mendengar suara atau bisikan halus dan mengadu ternampak bayangan menakutkan.
Gelisah dan stress selalu.mereka memerlukan perhatian yang sepenuhnya.

  • Tahap serius
    Mempunyai masalah dalam makan ( gangguan makan ) .
    Tidak dapat bertutur.
    Tidak mengenali diri sendiri dan ahli keluarga.
    Tidak mengawal kencing dan berak.
    Mempunyai masalah dalam pergerakan.

Ciri-ciri Alzheimer

Tahap awal dari penyakit ditandai oleh masalah-masalah keterbatasan ingatan dan perubahan kepribadian yang tidak kentara . Penderita pada awalnya mungkin mengalami masalah dalam mengatur keuangannya,mengingat peristiwa-peristiwa yang baru terjadi atau informasi dasar seperti nomor telepon,kode area,kode pos dan nama cucu-cucu mereka serta dalam melakukan hitungan numerik.

Tahap keparahan sedang ditandai dengan mulai tidak dapat memilih pakaian untuk musim atau acara tertentu,tidak mampu mengingat alamat rumah ,atau melakukan kesalahan-kesalahan pada saat mengemudi.

Sejumlah orang yang menderita AD tidak menyadari kekurangan mereka.Awalnya mereka mungkin menghubungkan masalah mereka dengan sebab-sebab lain ,seperti stress atau kelelahan.

Penderita tingkat lanjut mungkin mulai bicara dengan diri mereka sendiri atau mengalami halusinasi visual dan bahkan waham paranoid.Mereka meyakini bahwa seseorang berusaha menyakiti mereka atau mencuri apa saja yang mereka miliki,atau merasa pasangan mereka tidak setia

Pada tingkat yang paling parah,fungsi kognitif menurun hingga derajat dimana orang tersebut menjadi tidak berdaya.Mereka mungkin kehilangan kemampuan untuk berbicara atau mengendalikan pergerakan tubuh.Mereka juga tidak mapu mengendalikan kadung kemih,tidak mapu untuk berkomunikasi,berjalan atau bahkan duduk,serta membutuhkan bantuan dalam aktivitas di toilet dan maka. Pada tahap akhir,penderita akan mengalami kejang,koma,dan kematian terjadi.

Orang yang berisiko

  • Pengidap hipertensi yang mencapai usia 40 tahun ke atas
  • Pengidap kencing manis
  • Kurang berolahraga
  • Tingkat kolesterol yang tinggi
  •  Faktor keturunan – mempunyai keluarga yang mengidap penyakit ini pada usia 50-an.

DELIRIUM

Delerium berasal dari bahasa latin,de berarti dari dan lira berarti garis atau alur. Hal ini berarti pergeseran dari garis atau norma,,dalam persepsi,kognisi dan perilaku.Delerium mencakup keadaan kebingungan mental yang ekstreem dimana orang mengalami kesulitan berkonsentrasi dan berbicara jelas serta masuk akal. Orang yang terkena delerium mungkin mengalami kesulitan untuk mengabaikan stimulus yang  tidak sesuai atau mengalihkan perhatian mereka pada tugas yang baru. Orang-orang dalam kondisi delerium mungkin mengalami halusinasi yang menakutkan ,terutama halusinasi visual . Gangguan dalam persepsi juga sering terjadi .

Delirium adalah satu gangguan yang berkaitan dengan penurunan daya konsentrasi/masalah pemusatan perhatian adalah delirium. Apa itu delirium?. Delirium adalah keadaan dimana penderita mengalami penurunan kemampuan dalam memusatkan perhatiannya dan menjadi linglung, mengalami disorientasi dan tidak mampu berfikir secara jernih. Gangguan delirium ini biasanya bersifat sementara dan biasanya terjadi secara mendadak.

Delirium bisa timbul pada segala umur, tetapi sering pada usia lanjut. Sedikitnya 10% dari pasien lanjut usia yang dirawat inap menderita delirium; 15-50% mengalami delirium sesaat pada masa perawatan rumah sakit. Delirium juga sering dijumpai pada panti asuhan. Bila delirium terjadi pada orang muda biasanya karena penggunaan obat atau penyakit yang berbahaya mengancam jiwanya.

Delirium merupakan suatu keadaan mental yang abnormal dan bukan merupakan suatu penyakit. Gangguan ini dapat terlihat dengan ditemukannya sejumlah gejala yang menunjukkan penurunan fungsi mental. Mengapa delirium bisa terjadi dan apa penyebabnya ?.Berbagai keadaan atau penyakit (mulai dari dehidrasi ringan sampai keracunan obat atau infeksi yang bisa berakibat fatal), bisa menyebabkan delirium.

Gangguan delirium ini sendiri paling sering terjadi pada usia lanjut dan penderita yang otaknya telah mengalami gangguan, termasuk di sini adalah orang yang sakit berat, orang yang mengkonsumsi obat yang menyebabkan perubahan pikiran atau perilaku dan orang yang mengalami demensia.

Melihat dari pengertian di atas, mungkin dapat dikatakan bahwa perbedaan antara delirium dengan beberapa penyakit/gangguan yang berkaitan dengan masalah penurunan konsentrasi adalah bahwa delirium ini bersifat sementara dan bukan merupakan suatu penyakit. Harapannya delirium ini akan hilang dengan sendiri manakala penyakit berat, ataupun efek dari obat-obatan yang menjadi sebab dari timbulnya delirium ini sudah hilang.

Meskipun delirium ini paling sering terjadi pada orang dewasa (terutama yang berusia lanjut), tentu bukan berarti bahwa orang yang berusia muda akan luput dari gangguan ini. Untuk itu berhati-hatilah dalam mengkonsumsi suatu makanan/minuman/obat-obatan. Jika anda merasa menemukan gejala-gejala seperti di atas, alangkah baiknya untuk segera mengkonsultasikannya kepada ahlinya. Tentunya anda tidak maukan, jika di tengah kerumunan orang tiba-tiba anda seperti orang linglung…?

Perbedaan klinis delirium dan Demensia

Gambaran Delerium

Demensia

Riwayat Penyakit akut Penyakit kronik
Awal Cepat Lambat laun
Sebab Terdapat penyakit lain (infeksi,
dehidrasi, guna/putus obat
Biasanya penyakit otak kronik (spt Alzheimer, demensia vaskular)
Lamanya Ber-hari/-minggu Ber-bulan/-tahun
Perjalanan sakit Naik turun Kronik progresif
Taraf kesadaran Naik turun Normal
Orientasi Terganggu, periodik Intak pada awalnya
Afek Cemas dan iritabel Labil tapi tak cemas
Alam pikiran Sering terganggu Turun jumlahnya
Bahasa Lamban, inkoheren, inadekuat Sulit menemukan istilah tepat
Daya ingat Jangka pendek terganggu nyata Jangka pendek & panjang terganggu
Persepsi Halusinasi (visual) Halusinasi jarang kecuali sundowning
Psikomotor Retardasi, agitasi, campuran Normal
Tidur Terganggu siklusnya Sedikit terganggu siklus tidurnya
Atensi & kesadaran Amat terganggu Sedikit terganggu
Reversibilitas Sering reversibel Umumnya tak reversibel
Penanganan Segera Perlu tapi tak segera
  1. Tanda dan gejala

Delirium ditandai oleh kesulitan dalam:
* Konsentrasi dan memfokus
* Mempertahankan dan mengalihkan daya perhatian
* Kesadaran naik-turun
* Disorientasi terhadap waktu, tempat dan orang
* Halusinasi biasanya visual, kemudian yang lain
* Bingung menghadapi tugas se-hari-hari
* Perubahan kepribadian dan afek
* Pikiran menjadi kacau
* Bicara ngawur
* Disartria dan bicara cepat
* Neologisma
* Inkoheren

Gejala termasuk:
* Perilaku yang inadekuat
* Rasa takut
* Curiga
* Mudah tersinggung
* Agitatif
* Hiperaktif
* Siaga tinggi (Hyperalert)

Penderita Delerium bisa menjadi:
* Pendiam
* Menarik diri
* Mengantuk
* Banyak pasien yang berfluktuasi antara diam dan gelisah
* Pola tidur dan makan terganggu
* Gangguan kognitif, jadi daya mempertimbangkan dan tilik-diri terganggu

  1. 3.      Terapi
              Terapi diawali dengan memperbaiki kondisi penyakitnya dan menghilangkan faktor yang     memberatkan seperti:
  • Menghentikan penggunaan obat
  • Obati infeksi
  • Suport pada pasien dan keluanga
  • Mengurangi dan menghentikan agitasi untuk pengamanan pasien
  • Cukupi cairan dan nutrisi
  • Vitamin yang dibutuhkan

Psikopatologi
Delirium biasanya hilang bila penyakit badaniah yang menyebabkan sudah sembuh, mungkin sampai kira-kira 1 bulan sesudahnya. Gangguan jiwa yang psikotik atau nonpsikotik yang disebabkan oleh gangguan jaringan fungsi otak. Gangguan fungsi jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama mengenai otak (meningoensephalitis, gangguan pembuluh darah ootak, tumur otak dan sebagainya) atau yang terutama di luar otak atau tengkorak (tifus, endometriasis, payah jantung, toxemia kehamilan, intoksikasi dan sebagainya). Bila bagian otak yang terganggu itu luas, maka gangguan dasar mengenai fungsi mental sama saja, tidak tergantung pada penyakit yang menyebabkannya. Jika disebabkan oleh proses yang langsung menyerang otak , bila proses itu sembuh maka gejala-gejalanya tergantung pada besarnya kerusakan yang ditinggalkan gejala-gejala neurologik dan atau gangguan mental dengan gejala utama gangguan intelegensi. Bisa juga didapatkan adanya febris. Terdapat gejala psikiatrik bila sangat mengganggu dapat diberikan neroleptika, terutama yang mempunyai dosis efektif tinggi.

Penatalaksanaan

  1. Pengobatan etiologik harus sedini mungkin dan di samping faal otak dibantu agar tidak terjadi kerusakan otak yang menetap.
  2. Peredaran darah harus diperhatikan (nadi, jantung dan tekanan darah), bila perlu diberi stimulansia.
  3. Pemberian cairan harus cukup, sebab tidak jarang terjadi dehidrasi. Hati-hati dengan sedativa dan narkotika (barbiturat, morfin) sebab kadang-kadang tidak menolong, tetapi dapat menimbulkan efek paradoksal, yaitu klien tidak menjadi tenang, tetapi bertambah gelisah.
  4. Klien harus dijaga terus, lebih-lebih bila ia sangat gelisah, sebab berbahaya untuk dirinya sendiri (jatuh, lari dan loncat keluar dari jendela dan sebagainya) ataupun untuk orang lain.
  5. Dicoba menenangkan klien dengan kata-kata (biarpun kesadarannya menurun) atau dengan kompres es. Klien mungkin lebih tenang bila ia dapat melihat orang atau barang yang ia kenal dari rumah. Sebaiknya kamar jangan terlalu gelap , klien tidak tahan terlalu diisolasi.
  6. Terdapat gejala psikiatrik bila sangat mengganggu dapat diberikan neroleptika, terutama yang mempunyai dosis efektif tinggi.

ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian

  1. Identitas
    Indentias klien meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku bangsa/latar belakang kebudayaan, status sipil, pendidikan, pekerjaan dan alamat.
  2. Keluhan utama
    Keluhan utama atau sebab utama yang menyebbkan klien datang berobat (menurut klien dan atau keluarga). Gejala utama adalah kesadaran menurun.
  3. Faktor predisposisi
    Menemukan gangguan jiwa yang ada sebagai dasar pembuatan diagnosis serta menentukan tingkat gangguan serta menggambarkan struktur kepribadian yang mungkin dapat menerangkan riwayat dan perkembangan gangguan jiwa yang terdapat. Dari gejala-gejala psikiatrik tidak dapat diketahui etiologi penyakit badaniah itu, tetapi perlu dilakukan pemeriksaan intern dan nerologik yang teliti. Gejala tersebut lebih ditentukan oleh keadaan jiwa premorbidnya, mekanisme pembelaaan psikologiknya, keadaan psikososial, sifat bantuan dari keluarga, teman dan petugas kesehatan, struktur sosial serta ciri-ciri kebudayaan sekelilingnya. Gangguan jiwa yang psikotik atau nonpsikotik yang disebabkan oleh gangguan jaringan fungsi otak. Gangguan fungsi jaringan otak ini dapat disebabkan oleh penyakit badaniah yang terutama mengenai otak (meningoensephalitis, gangguan pembuluh darah ootak, tumur otak dan sebagainya) atau yang terutama di luar otak atau tengkorak (tifus, endometriasis, payah jantung, toxemia kehamilan, intoksikasi dan sebagainya).
  4. Pemeriksaan fisik
    Kesadran yang menurun dan sesudahnya terdapat amnesia. Tensi menurun, takikardia, febris, BB menurun karena nafsu makan yang menurun dan tidak mau makan.
  5. Psikososial
  • Genogram Dari hasil penelitian ditemukan kembar monozigot memberi pengaruh lebih tinggi dari kembar dizigot .
  • Konsep diri
  • Gambaran diri, tressor yang menyebabkan berubahnya gambaran diri karena proses patologik penyakit.
  • Identitas, bervariasi sesuai dengan tingkat perkembangan individu.
  • Peran, transisi peran dapat dari sehat ke sakit, ketidak sesuaian antara satu peran dengan peran yang lain dan peran yang ragu diman aindividu tidak tahun dengan jelas perannya, serta peran berlebihan sementara tidak mempunyai kemmapuan dan sumber yang cukup.
  • Ideal diri, keinginann yang tidak sesuai dengan kenyataan dan kemampuan yang ada.
  • Harga diri, tidakmampuan dalam mencapai tujuan sehingga klien merasa harga dirinya rendah karena kegagalannya.
  • Hubungan sosial
    Berbagai faktor di masyarakat yang membuat seseorang disingkirkan atau kesepian, yang selanjutnya tidak dapat diatasi sehingga timbul akibat berat seperti delusi dan halusinasi. Konsep diri dibentuk oleh pola hubungan sosial khususnya dengan orang yang penting dalam kehidupan individu. Jika hubungan ini tidak sehat maka individu dalam kekosongan internal. Perkembangan hubungan sosial yang tidak adeguat menyebabkan kegagalan individu untuk belajar mempertahankan komunikasi dengan orang lain, akibatnya klien cenderung memisahkan diri dari orang lain dan hanya terlibat dengan pikirannya sendiri yang tidak memerlukan kontrol orang lain. Keadaa ini menimbulkan kesepian, isolasi sosial, hubungan dangkal dan tergantung.
  • Spiritual
    Keyakina klien terhadapa agama dan keyakinannya masih kuat.a tetapi tidak atau kurang mampu dalam melaksnakan ibadatnmya sesuai dengan agama dan kepercayaannya.
  1. Status mental
    1. Penampila klien tidak rapi dan tidak mampu utnuk merawat dirinya sendiri.
    2. Pembicaraan keras, cepat dan inkoheren.
    3. Aktivitas motorik, Perubahan motorik dapat dinmanifestasikan adanya peningkatan kegiatan motorik, gelisah, impulsif, manerisme, otomatis, steriotipi.
    4. Alam perasaan
      Klien nampak ketakutan dan putus asa.
    5. Afek dan emosi.
      Perubahan afek terjadi karena klien berusaha membuat jarak dengan perasaan tertentu karena jika langsung mengalami perasaa tersebut dapat menimbulkan ansietas. Keadaan ini menimbulkan perubahan afek yang digunakan klien untukj melindungi dirinya, karena afek yang telah berubahn memampukan kien mengingkari dampak emosional yang menyakitkan dari lingkungan eksternal. Respon emosional klien mungkin tampak bizar dan tidak sesuai karena datang dari kerangka pikir yang telah berubah. Perubahan afek adalah tumpul, datar, tidak sesuai, berlebihan dan ambivalen.
    6. Interaksi selama wawancara
      Sikap klien terhadap pemeriksa kurawng kooperatif, kontak mata kurang.
    7. Persepsi
      Persepsi melibatkan proses berpikir dan pemahaman emosional terhadap suatu obyek. Perubahan persepsi dapat terjadi pada satu atau kebiuh panca indera yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman dan pengecapan. Perubahan persepsi dapat ringan, sedang dan berat atau berkepanjangan. Perubahan persepsi yang paling sering ditemukan adalah halusinasi.
    8. Proses berpikir
      Klien yang terganggu pikirannya sukar berperilaku kohern, tindakannya cenderung berdasarkan penilaian pribadi klien terhadap realitas yang tidak sesuai dengan penilaian yang umum diterima.
      Penilaian realitas secara pribadi oleh klien merupakan penilaian subyektif yang dikaitkan dengan orang, benda atau kejadian yang tidak logis.(Pemikiran autistik). Klien tidak menelaah ulang kebenaran realitas. Pemikiran autistik dasar perubahan proses pikir yang dapat dimanifestasikan dengan pemikian primitf, hilangnya asosiasi, pemikiran magis, delusi (waham), perubahan linguistik (memperlihatkan gangguan pola pikir abstrak sehingga tampak klien regresi dan pola pikir yang sempit misalnya ekholali, clang asosiasi dan neologisme.
    9. Tingkat kesadaran
      Kesadran yang menurun, bingung. Disorientasi waktu, tempat dan orang.
    10. Memori
      Gangguan daya ingat yang baru saja terjadi )kejadian pada beberapa jam atau hari yang lampau) dan yang sudah lama berselang terjadi (kejadian beberapa tahun yang lalu).
    11. Tingkat konsentrasi
      Klien tidak mampu berkonsentrasi
    12. Kemampuan penilaian
      Gangguan ringan dalam penilaian atau keputusan.